Rabu, 29 September 2010

askep endokarditis

A. PENGERTIAN
Endokarditis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme pada endokard atau katub jantung. Infeksi endokarditis biasanya terjadi pada jantung yang telah mengalami kerusakan. Penyakit ini di dahului oleh penyakit jantung bawaan, maupun penyakit jantung yang di dapat.

B. PATOFISIOLOGI
1. ETIOLOGI
Endokarditis paling banyak disebabkan oleh Streptococcus viridians yaitu mikroorganisme yang hidup dalam saluran nafas bagian atas. Penyebab lain dari infeksi endokarditis yang lebih pathogen yaitu Staphilococcus aureus yang menyebabkan infeksi endokarditis sub akut. Penyebab lainnya adalah Sreptococcus fekalis, Staphilococcus, bakteri gram negative aerob/anaerob, jamur, virus, ragi, dan kandida..
2. PROSES PENYAKIT
Kuman paling sering masuk melalui saluran pernafaan bagian atas. Selain itu juga melalui alat genital dan saluran pencernaan, serta pembuluh darah dan kulit. Endokard yang rusak dengan permukaannya tidak rata mudah sekali terinfeksi dan menimbulkan vegetasi yang terdiri dari thrombosis dan fibrin.
Vaskularisasi jaringan tersebut biasanya tidak baik, sehingga memudahkan mikroorganisme berkembang biak dan akibatnya akan menambah kerusakan katub dan endokard. Kuman yang sangat pathogen dapat menyebabkan robeknya katub sehingga terjadi kebocoran. Infeksi dengan mudah meluas ke jaringan di sekitarnya, menimbulkan abses miokard atau aneurisma nekrotik.
Bila infeksi mengenai korda tendinae maka dapat terjadi rupture yang mengakibatkan terjadinya kebocoran katub. Pembentukan trobus yang mengandung kuman kemudian lepas dari endokard merupakan gambaran yang khas pada endokarditis infeksi. Besarnya emboli bermacam-macam. Emboli yang disebabkan oleh jamur biasanya lebih besar, umumnya menyumbat pembuluh darah yang besar pula.
3. KOMPLIKASI
Tromboemboli yang terinfeksi dapat terangkut sampai di otak, limpa, ginjal, saluran cerna, jantung, anggota gerak, kulit, dan paru. Bila emboli nyangkut di ginjal akan menyebabkan infark pada ginjal, glomerulonefritis.
4. MANIFESTASI KLINIS
Sering penderita tidak mengetahui dengan jelas. Sejak kapan penyakitnya timbul, misalnya sesudah cabut gigi, mulai kapan demam, letih dan lesu, keringat malam banyak, nafsu makan berkurang, berat badan menurun, sakit pada persendian, sakit dada, sakit perut, hematuria, buta mendadak, sakit pada ekstremitas dan kulit.

C. PENATALAKSANAAN
Pengobatan yang sesuai dengan uji resistensi di pakai oabt yang diperkirakan sensitive terhadap mikroorganisme yang diduga. Bila penyebabnya streptococcus viridians yang sensitive terhada Penicillin G, diberikan dosis 2,4-6 juta unit perhari selama 4 minggu, parenteral selama 2 minggu.
Infeksi yang terjadi pada katub prostetik tidak dapat diatasi oleh obat biasa, biasanya memerlukan tindakan bedah. Selain pengobatan dengan antibiotic penting sekali mengobati penyakit lain yang menyertai.

D. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
Pengkajian data dasar pasien
1. Aktivitas dan istirahat, keletihan, kelelahan, takikardia, tekanan darah menurun, dispnoe saat beraktivitas.
2. Sirkulasi, mempunyai riwayat demam rematik, keturunan penyakit jantung, pernah melakukan operasi jantung by-pass, jantung berdebar-debar, friction rub, murmur, iram gallop S3/S4.
3. Eliminasi, riwayat penyakit ginjal, frekuensi haluaran urin yang menurun.
4. Kenyamanan, nyeri dada di bagian anterior keras dan tajam sewaktu inspirasi, sakit akan berkurang pada saat duduk, nyeri dada berpindah ke belakang, tidak berkurang dengan pemberian gliserin.
5. Pernafasan, nafas pendek, memburuk pada malam hari, inspirasi wheezing, creckles dan ronkhi lemah, batuk.
6. Keamanan, riwayat infeksi, pernah mendapat immunosupressan, adanya demam.
7. Kebutuhan belajar, bantuan dalam pengolahan makanan, rekreasi, transportasi, kelangsungan kebutuhan rumah tangga.
8. Pemeriksaan diagnostic, EKG menunjukkan adan ischemia, blok konduksi, dan disritmia, Echokardigrafi, enzim jantung, rongent, kultur darah, titer ASO dan ANA.

E. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri akut berhubungan dengan efek sistemik dari infeksi.
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan kardiak output
3. Potensial penurunan kardiak output berhubungan dengan penumpukan cairan pada rongga pericardium.
4. Potensial gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan tromboemboli.
5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakitnya

F. PERENCANAAN KEPERAWATAN
Diagnose 1
Nyeri akut berhubungan dengan efek sistemik dari infeksi.
Tujuan : nyeri teratasi.
KH : klien dapat mengidentifikasi cara-cara untuk mencegah nyeri, klien dapat mengontrol dan melaporkan nyeri yang timbul, klien dapat mendemonstrasikan teknik relaksasi dan berbagai aktivitas yang diindikasikan.
Rencana Tindakan
1. Observasi adanya nyeri dada, catat waktu dan factor-faktor penyulit.
2. Observasi tanda-tanda vital.
3. Berikan posisi yang nyaman.
4. Ciptakan lingkungan yang tenang.
5. Berikan oksigen sesuai indikasi.
6. Beri obat-obatan sesuai indikasi
Diagnosa 2
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan kardiak output.
Tujuan : intoleransi aktivitas teratasi.
KH : peningkatan kemampuan aktivitas, pengurangan tanda-tanda fisiologis, mengungkapkan pentingnya aktivitas yang tebatas..
Rencana Tindakan
1. Kaji respon aktivitas pasien.
2. Monitor denyut dan irama nada jantung.
3. Pertahankan bedrest selama periode demam.
4. Rencanakan perawatan dengan pengaturan istirahat atau periode tidur.
5. Kaji tingkat kemampuan klien dengan latihan berkala.
6. Evaluasi respon emosional terhadap situasi dan pemberian support.
7. Berikan terapi oksigen sesuai indikasi.
Diagnosa 3
Potensial penurunan kardiak output berhubungan dengan penumpukan cairan pada rongga pericardium.
Tujuan : penurunan kardiak output teratasi
KH : berkurangnya keluhan sesak nafas, identifikasi aktivitas yang mengurangi kerja jantung.
Rencana Tindakan
1. Monitor jumlah dan irama jantung.
2. Auskultasi suara jantung.
3. Pertahankan posisi fowler dan bedrest.
4. Berikan tindakan yang memberikan rasa nyaman.
5. Mberikan tekhnik manajemen stress.
6. Observasi tanda-tanda vital.
7. Evaluasi adanya keluhan letih, dan sesak nafas.
Diagnosa 4
Potensial gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan tromboemboli atau kerusakan katub.
Tujuan : potensial gangguan perfusi jaringan teratasi
KH : mempertahankan perfusi jaringan yang adekuat sesuai dengan kebiasaan makan, tanda-tanda vital dalam batas normal, keseimbangan intake dan output.
Rencana Tindakan
1. Evaluasi status mental.
2. Kaji adanya nyeri dad yang tiba-tiba.
3. Observasi adanya udema pada ekstremitas.
4. Observasi adanya hematuri dan keluhan sakit pinggang.
Diagnosa 5
Kurang pengetahuan berhubungn dengan kurangnya informasi tentang penyakitnya.
Tujuan : kurang pengetahuan teratasi.
KH : klien tampak mengerti tentang penyakitnya.
Rencana Tindakan
1. Jelaskan proses penyakit yang terjadi pada diri klien.
2. Identifikasi adanya factor resiko.
3. Kaji efek bahaya merokok dan nasehatkan untuk berhenti merokok.
4. Diskusikan pentingnya mengikuti perawatan medic.
5. Kaji dosis/kebutuhan oksigen untuk pasien.

G. PELAKSANAAN KEPERAWATAN
Tindakan keperawatan diberikan berdasarkan kewenangan dan tanggung jawab perawat secara profesional sebagaimana terdapat dalam standar praktek keperawatan yaitu sebagai berikut :
1. Independent
2. Dependent
3. Interdependent

H. EVALUASI KEPERAWATAN
Evaluasi respon klien terhadap asuhan yang diberikan dan pencapaian hasil yang diharapkan adalah tahap akhir dari proses keperawatan. Fase evaluasi perlu untuk menentukan seberapa baik rencana asuhan keperawatan tersebut berjalan, dan bagaimana secara proses yang terus menerus. Revisi rencana keperawatan adalah komponen penting dari fase evaluasi. (Maryllin E. Doengoes. 2001)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar